Setiap pagi Razka "sekolah" di rumah oma. Dan setiap hari pula, Razka klayu. Akhirnya dengan segala upaya membujuk, terjadilah perbincangan antara Razka dan oma-nya.
Oma nyelimur: Razka sini deh, oma punya burung dara. Coba lihat ada berapa?
Razka, sambil tetap sesenggukan: Dua
Oma: Duuh... Razka sudah pintar berhitung ya... Sekarang coba hitung balonnya ada berapa?
Razka, sudah gak mewek lagi: Dua!!!
Oma: *glek* balon empat kok dibilang dua :p
*nyengir*
Senin, 05 Oktober 2009
Ada apa dengan Razka...
Semalam, seperti biasa kami --bunda, ayah dan Razka-- menghabiskan waktu di kamar, sekalian 'ngeloni'. Kelihatannya Razka juga sudah sangat mengantuk, matanya sudah 5 watt nih. Razka mulai mengambil botol minumnya, ngedot, sambil bermanja-manja di pelukan bunda.
Melihat gelagat Razka yang sudah 'stone', bunda berinisiatif mempercepat Razka terpejam dengan menyenandungkan lagu pengantar tidur.
"Razka bobo, o oh Razka bobo... Kalau tidak bobo digigit nyamuk...
Bobolah bobo Razka anakku sayang...
Kalau tidak bobo digigit nyamuk..."
Begitu lirik yang bunda nyanyikan dengan lirih. Bunda melirik sejenak ke arah mata Razka, sepertinya sudah 'merem' nih. Tapi gak lama kemudian bunda melihat Razka seperti menahan tangis, air mata merembes perlahan dari kelopak mungilnya. Istilahnya mbrebes mili. Ayah bunda terhenyak kaget, karena tadi Razka ceria sekali. Bunda sontak membangunkan Razka.
"Razka kenapa? Sakit ya nak? mana yang sakit" pertanyaan panik beruntun keluar dari mulut bunda. Ayah juga seketika memegang telapak tangan dan kakinya. "Kita ke UGD aja yukkkk" kata ayah spanning. Tapi secara mengejutkan juga Razka hanya menatap dan memegang pipi bunda sambil tersenyum tanpa berkata-kata. Duuuh... makin senewen deh...
Gak lama kemudian Razka sudah 'glebakan' lagi dan minta susu. Razka pun asik minum susu dari botolnya. Bunda pun memanfaatkan waktu tersebut untuk segera menidurkan Razka, kembali bunda melantunkan lagu Nina Bobo sambil memejamkan mata. Ketika mata bunda terbuka, eeehhhh bunda melihat mata Razka sebam menahan air mata. Mulutnya pun mimblik-mimblik menahan tangis. MasyaAllah.... kenapa nak? Lagu ini terlalu 'mellow' ya? bunda berhenti bersenandung, sambil dalam hati bertanya-tanya ada apa gerangan dengan permata hati bunda ini.
Akhirnya bunda berinisiatif mengganti lagu dengan lagu lain yang berirama lebih ceria "twinkle-twinkle little star". Kelar lagu "twinkle..", bunda bertanya ke ayah apakah Razka sudah tertidur, kebetulan posisi tidur Razka sedikit membelakangi bunda sehingga gak terlihat matanya. Jawaban ayah cukup mengejutkan "Sudah deh gak usah nyanyi lagi bun... Hidung dan mata Razka mulai kemerahan, mau mewek tuh...."
Duuuhh nak... maaf bukan maksud bunda membuat Razka sedih. Tapi kenapa ya? apa yang salah? lagunya menyedihkan? suara bunda yang gak enak didengar? atau apa ya...?
Tiba-tiba pikiran bunda melayang pada setahun yang lalu ketika Razka berusia setahun dan sama sekali belum bisa ngomong. Razka teriak dan memukul mulut bunda setiap bunda menyenandungkan lagu pengantar tidur 'nina bobok' atau 'twinkle-twinkle'. Sejak itu bunda gak pernah lagi bersenandung, karena bunda pikir Razka gak suka ada suara ketika mau tidur. Kali ini Razka gak marah dan meminta bunda diam. Tapi Razka menitikkan air mata...
Ada apa dengan Razka?
Apa kita perlu ngobrol lagi dengan psikolog ya?
Melihat gelagat Razka yang sudah 'stone', bunda berinisiatif mempercepat Razka terpejam dengan menyenandungkan lagu pengantar tidur.
"Razka bobo, o oh Razka bobo... Kalau tidak bobo digigit nyamuk...
Bobolah bobo Razka anakku sayang...
Kalau tidak bobo digigit nyamuk..."
Begitu lirik yang bunda nyanyikan dengan lirih. Bunda melirik sejenak ke arah mata Razka, sepertinya sudah 'merem' nih. Tapi gak lama kemudian bunda melihat Razka seperti menahan tangis, air mata merembes perlahan dari kelopak mungilnya. Istilahnya mbrebes mili. Ayah bunda terhenyak kaget, karena tadi Razka ceria sekali. Bunda sontak membangunkan Razka.
"Razka kenapa? Sakit ya nak? mana yang sakit" pertanyaan panik beruntun keluar dari mulut bunda. Ayah juga seketika memegang telapak tangan dan kakinya. "Kita ke UGD aja yukkkk" kata ayah spanning. Tapi secara mengejutkan juga Razka hanya menatap dan memegang pipi bunda sambil tersenyum tanpa berkata-kata. Duuuh... makin senewen deh...
Gak lama kemudian Razka sudah 'glebakan' lagi dan minta susu. Razka pun asik minum susu dari botolnya. Bunda pun memanfaatkan waktu tersebut untuk segera menidurkan Razka, kembali bunda melantunkan lagu Nina Bobo sambil memejamkan mata. Ketika mata bunda terbuka, eeehhhh bunda melihat mata Razka sebam menahan air mata. Mulutnya pun mimblik-mimblik menahan tangis. MasyaAllah.... kenapa nak? Lagu ini terlalu 'mellow' ya? bunda berhenti bersenandung, sambil dalam hati bertanya-tanya ada apa gerangan dengan permata hati bunda ini.
Akhirnya bunda berinisiatif mengganti lagu dengan lagu lain yang berirama lebih ceria "twinkle-twinkle little star". Kelar lagu "twinkle..", bunda bertanya ke ayah apakah Razka sudah tertidur, kebetulan posisi tidur Razka sedikit membelakangi bunda sehingga gak terlihat matanya. Jawaban ayah cukup mengejutkan "Sudah deh gak usah nyanyi lagi bun... Hidung dan mata Razka mulai kemerahan, mau mewek tuh...."
Duuuhh nak... maaf bukan maksud bunda membuat Razka sedih. Tapi kenapa ya? apa yang salah? lagunya menyedihkan? suara bunda yang gak enak didengar? atau apa ya...?
Tiba-tiba pikiran bunda melayang pada setahun yang lalu ketika Razka berusia setahun dan sama sekali belum bisa ngomong. Razka teriak dan memukul mulut bunda setiap bunda menyenandungkan lagu pengantar tidur 'nina bobok' atau 'twinkle-twinkle'. Sejak itu bunda gak pernah lagi bersenandung, karena bunda pikir Razka gak suka ada suara ketika mau tidur. Kali ini Razka gak marah dan meminta bunda diam. Tapi Razka menitikkan air mata...
Ada apa dengan Razka?
Apa kita perlu ngobrol lagi dengan psikolog ya?
Sabtu, 26 September 2009
Finally...
Hhhh... akhirnya Bunda lega deh nak... Lebaran ini ternyata memberikan hadiah lain untuk Bunda. Semua kosakata yang terekam Razka selama ini tiba-tiba mengalir deras. Naik turun tangga, Razka berhitung "satu, dua, tiga...". Razka juga tak berhenti menirukan kalimat yang bunda ucapkan dengan lancar.
Bunda: Setelah enam, berapa nak?
Razka: TUJUH [mantap]
Alhamdulillah... bukan itu saja Razka juga sudah bisa menyusun puzzle sesuai tempatnya, gak tanggung-tanggung 10 pcs lho...
Puji syukur ke hadlirat Allah SWT tak putus bunda ucapkan. Subhanallah... InsyaAllah Razka menjadi anak yang cerdas dan --harus-- sholeh.
Eh... sudah bisa 'complaint' juga "Ayah bau, ayah bau, lum ndi" hihihi pasti yang ngajarin bundanya nih :p *mode: ngaku on*
Jadi... selama ini 'ngematke' tho nak...
Bunda: Setelah enam, berapa nak?
Razka: TUJUH [mantap]
Alhamdulillah... bukan itu saja Razka juga sudah bisa menyusun puzzle sesuai tempatnya, gak tanggung-tanggung 10 pcs lho...
Puji syukur ke hadlirat Allah SWT tak putus bunda ucapkan. Subhanallah... InsyaAllah Razka menjadi anak yang cerdas dan --harus-- sholeh.
Eh... sudah bisa 'complaint' juga "Ayah bau, ayah bau, lum ndi" hihihi pasti yang ngajarin bundanya nih :p *mode: ngaku on*
Jadi... selama ini 'ngematke' tho nak...
Jumat, 04 September 2009
One day in Toddler Class
Sabtu kemarin kami mengajak Razka masuk play class lebih awal. Wah ada titik cerah, my wonderful boy ini memasuki ruangan dengan gembira, dengan catatan ditemani ayah, it's fine bebe. Tapi ternyata tidak berlangsung lama, ketika kelas dimulai, Razka malah minta keluar lagi. Akhirnya ditemani bunda dan ayah masuk ke music class, cukup 15 menit saja. Razka minta keluar lagi dan pulang.
Setelah beberapa kali gak dapat mood Razka untuk menikmati kelasnya. Bunda terpaksa minta tolong oma untuk antar Razka ke sekolah dua hari sekali. Kamis kemarin merupakan kali ke dua Razka sekolah bersama Oma. Alhamdulillah sudah ada kemajuan, dari yang hanya mau mengikuti kelas 1/2 dari waktu yang disediakan, kemarin Razka sudah menyelesaiakan kelasnya dengan baik.
Menurut Oma, Razka juga cukup dapat menerima arahan 'miss' nya, meski belum sukarela, masih perlu bujukan :) Razka juga antusias dengan permainan edukasi yang diberikan. Apalagi ketika harus menabur pasir di lembar gambarnya.
Sebelum bobo, terjadi sedikit komunikasi mengenai sekolahnya, antara kami dengan Razka.
Ayah/bunda: Mas, tadi di seklah belajar apa nak?
Razka: mamam
Ayah/bunda: Setelah mamam, miss-nya kasih apa?
Razka: menggosokkan kedua telapak tangannya
Ayah/bunda: o iya cuci tangan ya.... Habis mamam bikin gambar apa?
Razka: kuwa
Ayah/bunda: wah hebat nempel kura-kura ya...
Razka: senyum manis sambil menunjuk kertas gambarnya yang kami gantung di dinding
Ayah/bunda: Och... senangnya
Oke... Sabtu besok kita sekula lagi ya mas....
Bunda tak kan pernah lelah nak...
Setelah beberapa kali gak dapat mood Razka untuk menikmati kelasnya. Bunda terpaksa minta tolong oma untuk antar Razka ke sekolah dua hari sekali. Kamis kemarin merupakan kali ke dua Razka sekolah bersama Oma. Alhamdulillah sudah ada kemajuan, dari yang hanya mau mengikuti kelas 1/2 dari waktu yang disediakan, kemarin Razka sudah menyelesaiakan kelasnya dengan baik.
Menurut Oma, Razka juga cukup dapat menerima arahan 'miss' nya, meski belum sukarela, masih perlu bujukan :) Razka juga antusias dengan permainan edukasi yang diberikan. Apalagi ketika harus menabur pasir di lembar gambarnya.
Sebelum bobo, terjadi sedikit komunikasi mengenai sekolahnya, antara kami dengan Razka.
Ayah/bunda: Mas, tadi di seklah belajar apa nak?
Razka: mamam
Ayah/bunda: Setelah mamam, miss-nya kasih apa?
Razka: menggosokkan kedua telapak tangannya
Ayah/bunda: o iya cuci tangan ya.... Habis mamam bikin gambar apa?
Razka: kuwa
Ayah/bunda: wah hebat nempel kura-kura ya...
Razka: senyum manis sambil menunjuk kertas gambarnya yang kami gantung di dinding
Ayah/bunda: Och... senangnya
Oke... Sabtu besok kita sekula lagi ya mas....
Bunda tak kan pernah lelah nak...
Senin, 24 Agustus 2009
Emoh Sekolah
Rencana memasukkan Razka ke baby class sudah sejak usianya 18 bulan, tapi masih ditahan-tahan. Akhirnya 2 minggu yang lalu saat usianya sudah 25 bulan, saya merasa merupakan waktu yang tepat untuk mendaftarkannya ke toddler class. Keputusan ini diambil agar Razka lebih supel, menambah kosa kata-nya, dan punya pengalaman baru.
Meskipun bukan trial class yang pertama kali, tapi kok sekarang malah lebih parah. Razka emoh menjejakkan kakinya ke dalam kelas. Apalagi setelah disapa oleh tutor-nya malah tambah menjauh. Wadduhhhh..... gimana nih???? wis kadung bayar je.... "Tapi ini kan baru pertama kali", batin saya.
Minggu berikutnya, sepasukan pengantar telah siap. Ayah, bunda, te' Na, teteh Ita dan Razka tentunya. Sampai di tempat, bunda sudah memberi isyarat kepada miss2 nya untuk tidak menyapa Razka. Deng deng deng deng.... jangankan masuk kelas, masuk pintu ruangan pun emoh. Ekstra bujuk-bujuk deh, keukeuh enggan masuk, malah ditambah tangisan ngamuk pula....
Huk huk huk.... bundanya tambah bingung nih.... Mungkin memang waktu kelasnya kurang tepat, karena Razka sudah ngantuk berat dan malas bersosialisasi. Akhirnya nyerah lagi, kami pulang tanpa 'belajar' sama sekali. Pada saat pamit, tutor-nya menyarankan untuk datang lebih awal sebelum ramai, sehingga Razka merasa ruangan tersebut adalah miliknya.
Well we'll see next week :(
*jangankan foto, tangan ini dipegang erat2 oleh Razka*
Meskipun bukan trial class yang pertama kali, tapi kok sekarang malah lebih parah. Razka emoh menjejakkan kakinya ke dalam kelas. Apalagi setelah disapa oleh tutor-nya malah tambah menjauh. Wadduhhhh..... gimana nih???? wis kadung bayar je.... "Tapi ini kan baru pertama kali", batin saya.
Minggu berikutnya, sepasukan pengantar telah siap. Ayah, bunda, te' Na, teteh Ita dan Razka tentunya. Sampai di tempat, bunda sudah memberi isyarat kepada miss2 nya untuk tidak menyapa Razka. Deng deng deng deng.... jangankan masuk kelas, masuk pintu ruangan pun emoh. Ekstra bujuk-bujuk deh, keukeuh enggan masuk, malah ditambah tangisan ngamuk pula....
Huk huk huk.... bundanya tambah bingung nih.... Mungkin memang waktu kelasnya kurang tepat, karena Razka sudah ngantuk berat dan malas bersosialisasi. Akhirnya nyerah lagi, kami pulang tanpa 'belajar' sama sekali. Pada saat pamit, tutor-nya menyarankan untuk datang lebih awal sebelum ramai, sehingga Razka merasa ruangan tersebut adalah miliknya.
Well we'll see next week :(
*jangankan foto, tangan ini dipegang erat2 oleh Razka*
Rabu, 05 Agustus 2009
Tayaaaa....!!!!
Alhamdulillah Razka semakin lancar mengikuti kosa kata yang kami ucapkan. Seperti biasa dia suka banget kalau disuruh cari barang-barang yang tersembunyi. Setiap ada benda yang bisa ditemukan bundanya bilang "taraaaa...." Selang beberapa menit ketika giliran Razka mencari benda dan menemukannya, spontan teriak "tayyaaa...".

Gak apa kok nak kalau masih cadel, InsyaAllah cepet lancar ya...
Bunda sudah ingin segera mendengar celotehanmu :)
Bunda sudah ingin segera mendengar celotehanmu :)
Senin, 03 Agustus 2009
"Hard Attitude"
Polah tingkah anak-anak itu bukan saja menggemaskan tapi juga menguras kesabaran orang tua. Setiap bulan 'keajaiban'nya berganti-ganti. Hot attitude bulan ini adalah "Emoh Pakai Baju". Lha kan lucu, kok ya pakai baju aja ngamuk, sampai gerung-gerung dan menggugah keingintahuan tetangga. Kalau sudah pakai pun enggan diganti, piye tho.... *emaknya garuk-garuk*
Pernah suatu hari, kelakuan ini saya turuti. Eh... tiba-tiba kabur telanjang. Bertamu di rumah tetangga pula. Hwaaaa..... :O
Begitu juga kalau pup, ngebujuknya untuk bebersih butuh waktu lebih dari 15 menit. Bahkan rela tidur dengan sekantung pup di celananya, fuih... *menghela nafas panjang*
Belum lagi ketika akhirnya Razka menurut untuk mengenakan baju, dengan mimik menggoda dia senyum-senyum manis dan... "Baaaak" ujarnya lucu setiap tangannya keluar dari sela lengan baju. Ooooohhhh..... so sweet, lunas sudah semua kekesalan bundanya :)
Besok apa lagi ulah yang akan diperbuat ya?
Pernah suatu hari, kelakuan ini saya turuti. Eh... tiba-tiba kabur telanjang. Bertamu di rumah tetangga pula. Hwaaaa..... :O
Begitu juga kalau pup, ngebujuknya untuk bebersih butuh waktu lebih dari 15 menit. Bahkan rela tidur dengan sekantung pup di celananya, fuih... *menghela nafas panjang*
Belum lagi ketika akhirnya Razka menurut untuk mengenakan baju, dengan mimik menggoda dia senyum-senyum manis dan... "Baaaak" ujarnya lucu setiap tangannya keluar dari sela lengan baju. Ooooohhhh..... so sweet, lunas sudah semua kekesalan bundanya :)
Besok apa lagi ulah yang akan diperbuat ya?
Langganan:
Postingan (Atom)