Ini dia rengekan terbaru Razka setiap melihat bundanya sudah siap dengan baju kantor.
"Bunda mau andi ya?"
"Anti aju?"
"Aju apa?"
Tanya beruntun.
"Iya Razka bunda harus ke kantor, nanti sore kan pulang" jawab saya selembut mungkin.
Seketika itu tangisannya pecah. Ach.... menambah berat langkah ini. Doakan bunda ya nak.... doakan bunda....
Andai saja bunda bisa langsung menjawab permintaanmu.
Kamis, 04 Maret 2010
"Aku gak sakit bunda..."
Mendadak kehadiran kami menjadi seperti sepasang monster bagi Razka di saat waktu minum obat.
Ada aja alasannya.... dan tiba-tiba pula Razka jadi super duper susah minum obat kalau lagi sakit. Padahal beberapa waktu lalu dia dengan sukarela minta obat bila dirasa badannya mulai gak enak. Kenapa ya???? sejumlah tandatanya berkecamuk di benak kami.
Maunya sih memang tidak mudah memberikan obat, tapi kalau sudah seminggu lebih masih saja batuk pilek ditambah panas tinggi, mana ada yang tega membiarkannya sakit seperti itu.
Segala upaya sugesti positif telah dilakukan tetap saja tutup mulut.
Terpaksa pakai cara terakhir, di'cangar' daripada diagnosa dokter bronchitis ini bertambah parah menjadi penumoni :'(
Kadang kami ingin tersenyum setiap Razka mengelak bahwa dia sakit maupun suhu tubuhnya panas. Misalkan ketika kami cek suhu tubuhnya, Razka berujar dengan tenang "gak usah pegangin, gak panas, cuma anget doang" atau dia berusaha menghibur kami "bunda, aku gak sakit". Duh kalau sudah begitu membuat emosi kami makin campur aduk mau tertawa, terharu dan sedih. Piye tho nak.....
Razka, we just want you to get well soon.
Be health and cheers ya nak....
We love you so so much.
Ada aja alasannya.... dan tiba-tiba pula Razka jadi super duper susah minum obat kalau lagi sakit. Padahal beberapa waktu lalu dia dengan sukarela minta obat bila dirasa badannya mulai gak enak. Kenapa ya???? sejumlah tandatanya berkecamuk di benak kami.
Maunya sih memang tidak mudah memberikan obat, tapi kalau sudah seminggu lebih masih saja batuk pilek ditambah panas tinggi, mana ada yang tega membiarkannya sakit seperti itu.
Segala upaya sugesti positif telah dilakukan tetap saja tutup mulut.
Terpaksa pakai cara terakhir, di'cangar' daripada diagnosa dokter bronchitis ini bertambah parah menjadi penumoni :'(
Kadang kami ingin tersenyum setiap Razka mengelak bahwa dia sakit maupun suhu tubuhnya panas. Misalkan ketika kami cek suhu tubuhnya, Razka berujar dengan tenang "gak usah pegangin, gak panas, cuma anget doang" atau dia berusaha menghibur kami "bunda, aku gak sakit". Duh kalau sudah begitu membuat emosi kami makin campur aduk mau tertawa, terharu dan sedih. Piye tho nak.....
Razka, we just want you to get well soon.
Be health and cheers ya nak....
We love you so so much.
Rabu, 09 Desember 2009
"Mattawot"
"Bunda.... mattawot, mattawot" Razka merengek
"Mattawot..." mulai deh mengiba
Hal ini selalu dilakukan setiap kali kami melalui...
INDOMARET!!!
Halaahhhh :p
*jauh panggang dari api*
"Mattawot..." mulai deh mengiba
Hal ini selalu dilakukan setiap kali kami melalui...
INDOMARET!!!
Halaahhhh :p
*jauh panggang dari api*
Kamis, 03 Desember 2009
Sekuntum Bunga Sepatu
"Bunda....." teriak Razka berlari masuk dari jalan-jalan paginya.
"Iya nak...." jawabku tak kalah seru.
Tubuh setengah gempalnya hampir saja menubrukku, saking cepatnya berlari seraya mengulurkan kedua tangan mungilnya ke arah ku. Dan... "Ini" ujarnya polos. What a surprise.... Razka memberikan sekuntum bunga sepatu yang sudah pasti dipetiknya dari koleksi rumah tetangga :D
"Thank you so much baby. Uch so sweet. You really my good boy" ujar saya berseri-seri dan 'mbrebes mili'. Razka tersipu malu dan ngeloyor pergi.
Semenit kemudian Razka berbalik ke tempat saya berdiri takjub dan dengan wajah polos berkata "Mbang bawa, wat oma aja" (baca: kembangnya di bawa buat oma saja) GUBRAK saya ke-ge-er-an :p
Ternyata tadi cuma simulasi ya, batin saya. Baiklah nak, mari bunda antar Razka ke rumah oma, seperti biasa setiap pagi. Gak apa, bunda berbesar hati kok. Memang bunga itu seharusnya buat oma. Sebagai tanda terima kasih bunda pada oma atas keikhlasannya menjaga Razka setiap hari.
Saya yakin hal seperti ini juga sering terjadi pada ibu bekerja yang mempercayakan pengasuhan buah hatinya pada orang tua, mertua atau siapa saja yang dipercayanya. Dan kerelaan ibu bekerja untuk membagi cinta anaknya pada "sang pengasuh". Serta kebesaran hati menerima kenyataan bahwa terkadang si anak lebih 'lulut' pada 'pengasuhnya'.
say it with flower :)
"Iya nak...." jawabku tak kalah seru.
Tubuh setengah gempalnya hampir saja menubrukku, saking cepatnya berlari seraya mengulurkan kedua tangan mungilnya ke arah ku. Dan... "Ini" ujarnya polos. What a surprise.... Razka memberikan sekuntum bunga sepatu yang sudah pasti dipetiknya dari koleksi rumah tetangga :D
"Thank you so much baby. Uch so sweet. You really my good boy" ujar saya berseri-seri dan 'mbrebes mili'. Razka tersipu malu dan ngeloyor pergi.
Semenit kemudian Razka berbalik ke tempat saya berdiri takjub dan dengan wajah polos berkata "Mbang bawa, wat oma aja" (baca: kembangnya di bawa buat oma saja) GUBRAK saya ke-ge-er-an :p
Ternyata tadi cuma simulasi ya, batin saya. Baiklah nak, mari bunda antar Razka ke rumah oma, seperti biasa setiap pagi. Gak apa, bunda berbesar hati kok. Memang bunga itu seharusnya buat oma. Sebagai tanda terima kasih bunda pada oma atas keikhlasannya menjaga Razka setiap hari.
Saya yakin hal seperti ini juga sering terjadi pada ibu bekerja yang mempercayakan pengasuhan buah hatinya pada orang tua, mertua atau siapa saja yang dipercayanya. Dan kerelaan ibu bekerja untuk membagi cinta anaknya pada "sang pengasuh". Serta kebesaran hati menerima kenyataan bahwa terkadang si anak lebih 'lulut' pada 'pengasuhnya'.
say it with flower :)
Kamis, 05 November 2009
Ada apa dengan Razka 2
2 hari yang lalu Razka belum juga tidur sampai pukul 22.30 WIB. Padahal bunda sudah sangat lelah dan mengantuk. Minta susu gak diminum. Ganti minta air putih, cuma dihisap-hisap aja dot-nya. Minta disetelin TV gak ditonton, malah minta diganti-ganti channelnya. Glebakan sambil nggriyeng. Rewel banget. Urghhhh....
Meski mata mas Razka sudah 5 watt, masih aja sempet ngusilin bundanya. Hidung bunda dipencet-pencet. Tangan bunda digigit. "Wadaooowww, sakit" bunda serius lho. Bunda coba kasih tahu baik-baik, eh malah tambah menjadi-jadi. Ketika nada suara bunda meninggi, Razka menangis. Bunda merasa bersalah dan coba menghibur Razka. Tangisan Razka semakin keras, sampai bunda kehabisan akal. Cara terakhir: diam, usap-usap punggung Razka, sambil bersenandung lirih. Baru bunda melantunkan satu bait lagu pengantar tidur, tiba-tiba "hwaaaaa...." pecah tangis Razka makin keras.
Jadi ingat posting bunda tanggal 5 Oktober 2009 lalu, bahwa Razka menitikan air mata perlahan ketika mendengar bunda bersenandung. Eeehhhh sekarang malah mboar-mboar.... :C
Ada apa tho nak dengan suara bunda?
Ok kalau sudah siap mendengar lagu pengantar tidur, please let me know ya nak...
Meski mata mas Razka sudah 5 watt, masih aja sempet ngusilin bundanya. Hidung bunda dipencet-pencet. Tangan bunda digigit. "Wadaooowww, sakit" bunda serius lho. Bunda coba kasih tahu baik-baik, eh malah tambah menjadi-jadi. Ketika nada suara bunda meninggi, Razka menangis. Bunda merasa bersalah dan coba menghibur Razka. Tangisan Razka semakin keras, sampai bunda kehabisan akal. Cara terakhir: diam, usap-usap punggung Razka, sambil bersenandung lirih. Baru bunda melantunkan satu bait lagu pengantar tidur, tiba-tiba "hwaaaaa...." pecah tangis Razka makin keras.
Jadi ingat posting bunda tanggal 5 Oktober 2009 lalu, bahwa Razka menitikan air mata perlahan ketika mendengar bunda bersenandung. Eeehhhh sekarang malah mboar-mboar.... :C
Ada apa tho nak dengan suara bunda?
Ok kalau sudah siap mendengar lagu pengantar tidur, please let me know ya nak...
'Elmira' the pet lover
Di bawah ini adalah diskusi yang sedang marak dalam milis yang bunda ikuti nak... dan ternyata bunda alami juga.... :)
Setuju dengan Mbak Retno dan bundanya Sulthan.
Saya belum berani pelihara hewan, meski Razka [2 thn 3 bln] menunjukkan tanda-tanda "menyukai binatang" ;p.
Ketakutan saya terbukti karena Kelinci yang dibelikan omanya mati dalam hitungan hari. Alih-alih disayang-sayang eh malah kecekik. Kelinci kejang sesaat disusul kematiannya yang mengenaskan. Anak ayam yang dibeli sepupunya di sekolah juga mengalami nasib yang sama. Sayang... sayang... weik ciap ciap ciap lama-lama bunyinya makin lirih dan napas berhenti. Kucing persia milik Eyangnya selalu jadi sasaran untuk dikejar dan ditarik-tarik ekornya, wadaoooww... Dibawain kura-kura brazil sama ayahnya, digrujuk air banyak banget sampai tuh kura-kura kelelahan berenang. Untung gak berani pegang kura-kura jadi hewan ini lolos dari cengkeraman Razka :D
Bulan lalu Razka merengek-rengek beli ikan. Sang Oma nan baik hati mengabulkan permintaan cucunya dan membuatkan aquarium. Ikan baru datang sudah diobok-obok. Mati satu karena stress. Sekarang dia ngemis-ngemis dan minta ikannya dibuang, diganti dengan yang baru. Gak tanggung-tanggung IKAN HIU. Halah... gubrakkk. Saya ganti dengan VCD travel and living dan discovery channel mengenai ikan dan sea world saja hehehe...
Bener-bener 'Elmira' deh.... Mungkin ada baiknya menunggu si kecil mengerti merawat dan memelihara hewan ya... Meski ada sebagian batita yang sudah mengerti bahwa hewan adalah makhluk hidup yang dapat merasakan sakit dan sedih seperti manusia.
Saya lihat di b***tv, batita pada sayang banget sama hewan-hewan peliharaannya meski cuma seekor ulat kecil. Apa karena situasi kondisi masyarakat kita juga yang memang tidak biasa memperlakukan hewan sebagaimana mestinya?. Dalam masyarakat kita berlaku "lebih baik sayang ama anak orang daripada sayang ama binatang". Lihat kucing ditendang, lihat anjing ditimpuk, lihat ayam bawaannya pengen motong. Beda dengan perilaku masyarakat barat yang banyak merelakan tidak memiliki anak tapi menyayangi hewan peliharaannya seperti anak sendiri. Menyandingkan anak dan hewan peliharaannya hampir sejajar. (???!!)
Saya menyimpulkan bahwa perilaku anak kita juga banyak dipengaruhi oleh paradigma yang berlaku dimasyarakat dimana si kecil tumbuh dan berkembang. Meski bukan berarti kita sebagai orang tua mengajari secara langsung untuk berlaku jahat pada hewan. Tapi ini lebih pada lingkungan tinggal serta kebiasaan yang berlaku di masyarakat sekitar.
Sabar... sabar bukan berarti si kecil punya niat jahat khan....
Bunda yakin seiring waktu Razka akan tumbuh menjadi laki-laki penyayang, bukan berarti mengumbar rasa sayang yang dapat menyakiti orang lain lho :) [u will learn and know it son]
Setuju dengan Mbak Retno dan bundanya Sulthan.
Saya belum berani pelihara hewan, meski Razka [2 thn 3 bln] menunjukkan tanda-tanda "menyukai binatang" ;p.
Ketakutan saya terbukti karena Kelinci yang dibelikan omanya mati dalam hitungan hari. Alih-alih disayang-sayang eh malah kecekik. Kelinci kejang sesaat disusul kematiannya yang mengenaskan. Anak ayam yang dibeli sepupunya di sekolah juga mengalami nasib yang sama. Sayang... sayang... weik ciap ciap ciap lama-lama bunyinya makin lirih dan napas berhenti. Kucing persia milik Eyangnya selalu jadi sasaran untuk dikejar dan ditarik-tarik ekornya, wadaoooww... Dibawain kura-kura brazil sama ayahnya, digrujuk air banyak banget sampai tuh kura-kura kelelahan berenang. Untung gak berani pegang kura-kura jadi hewan ini lolos dari cengkeraman Razka :D
Bulan lalu Razka merengek-rengek beli ikan. Sang Oma nan baik hati mengabulkan permintaan cucunya dan membuatkan aquarium. Ikan baru datang sudah diobok-obok. Mati satu karena stress. Sekarang dia ngemis-ngemis dan minta ikannya dibuang, diganti dengan yang baru. Gak tanggung-tanggung IKAN HIU. Halah... gubrakkk. Saya ganti dengan VCD travel and living dan discovery channel mengenai ikan dan sea world saja hehehe...
Bener-bener 'Elmira' deh.... Mungkin ada baiknya menunggu si kecil mengerti merawat dan memelihara hewan ya... Meski ada sebagian batita yang sudah mengerti bahwa hewan adalah makhluk hidup yang dapat merasakan sakit dan sedih seperti manusia.
Saya lihat di b***tv, batita pada sayang banget sama hewan-hewan peliharaannya meski cuma seekor ulat kecil. Apa karena situasi kondisi masyarakat kita juga yang memang tidak biasa memperlakukan hewan sebagaimana mestinya?. Dalam masyarakat kita berlaku "lebih baik sayang ama anak orang daripada sayang ama binatang". Lihat kucing ditendang, lihat anjing ditimpuk, lihat ayam bawaannya pengen motong. Beda dengan perilaku masyarakat barat yang banyak merelakan tidak memiliki anak tapi menyayangi hewan peliharaannya seperti anak sendiri. Menyandingkan anak dan hewan peliharaannya hampir sejajar. (???!!)
Saya menyimpulkan bahwa perilaku anak kita juga banyak dipengaruhi oleh paradigma yang berlaku dimasyarakat dimana si kecil tumbuh dan berkembang. Meski bukan berarti kita sebagai orang tua mengajari secara langsung untuk berlaku jahat pada hewan. Tapi ini lebih pada lingkungan tinggal serta kebiasaan yang berlaku di masyarakat sekitar.
Sabar... sabar bukan berarti si kecil punya niat jahat khan....
Bunda yakin seiring waktu Razka akan tumbuh menjadi laki-laki penyayang, bukan berarti mengumbar rasa sayang yang dapat menyakiti orang lain lho :) [u will learn and know it son]
Rabu, 07 Oktober 2009
GTM
Masalah GTM alias Gerakan Tutup Mulut anak bila disuapi, sudah menjadi masalah global para ibu. Hanya sedikit prosentase ibu yang mulus bahkan tidak melalui tahapan ini sama sekali. Bersyukurlah....
Para ibu pusing tujuh keliling. dari puter otak membuat variasi menu sampai pada memberikan alternatif asupan gizi bagi anaknya. Saya pun tak luput dari permalahan ini.
Razka [2th 2bln] juga sedang mengalami masalah makan. Dalam sekali waktu makan bisa 2-3 kali ganti menu lho... Nyuil ini sedikit, lahap itu sedikit. Dan kalau sudah 'ngarani' gak bisa ditawar.
Tiba-tiba dia minta Ko alias donat J**o atau Di alias Burger Ikan Mc*. Sebenarnya saya bertahan untuk tidak memberikan junk food. Semua menu junk food saya tiru di rumah agar kualitasnya lebih terkontrol dan baik. Tapi dia emoh tuh, sampai saya akali dengan bungkus aslinya lho... hehehe dia tau tuh... Herannya lagi untuk urusan bertahan tidak membuka mulut, anak-anak ini punya energi lebih, sehingga tuh mulut terkunci rapat meski dirayu dengan berbagai cara.
Kalau lagi mau nasi, sehari cuma nasi doang.
Kalau lagi mau lauk, ya lauk doang.
Kalau lagi gak mau apa-apa ya cuma susu doang.
Jangan-jangan Razka lagi ikut food combining yach...?!!! :p
Lucunya kalau di 'toddler class'nya Razka lahap menyantap biskuit yang diberikan, bahkan minta tambah. "More please..." katanya. *Arghhh* emaknya mumet.
Tapi kok ya... berat badannya naik terus tuh dan [InsyaAllah] akhir-akhir ini jarang sakit, malah tambah ceria. Akhirnya saya --sekalipun tidak 100%-- nyerah deh. Saya tidak lagi memaksakan Razka harus makan, saya tawarkan berbagai pilihan dan saya tetap mengajarkannya kedisplinan, bahwa apa yang dipilih ya harus dihabiskan. Alhamdulillah --sampai saat ini-- Razka mau diajak konsekuen [emang anak 2 tahun ngerti konsekuensi ya?].
Saya pun berusaha berdamai dengan pola makan Razka, tapi tetep puter otak untuk menyiapkan menu-menu yang menurut saya enak dan baik, meski belum tentu dimakan Razka :p yah... dinikmati aja... itung-itung belajar masak.
Sepertinya saya juga perlu food combining nih....
Para ibu pusing tujuh keliling. dari puter otak membuat variasi menu sampai pada memberikan alternatif asupan gizi bagi anaknya. Saya pun tak luput dari permalahan ini.
Razka [2th 2bln] juga sedang mengalami masalah makan. Dalam sekali waktu makan bisa 2-3 kali ganti menu lho... Nyuil ini sedikit, lahap itu sedikit. Dan kalau sudah 'ngarani' gak bisa ditawar.
Tiba-tiba dia minta Ko alias donat J**o atau Di alias Burger Ikan Mc*. Sebenarnya saya bertahan untuk tidak memberikan junk food. Semua menu junk food saya tiru di rumah agar kualitasnya lebih terkontrol dan baik. Tapi dia emoh tuh, sampai saya akali dengan bungkus aslinya lho... hehehe dia tau tuh... Herannya lagi untuk urusan bertahan tidak membuka mulut, anak-anak ini punya energi lebih, sehingga tuh mulut terkunci rapat meski dirayu dengan berbagai cara.
Kalau lagi mau nasi, sehari cuma nasi doang.
Kalau lagi mau lauk, ya lauk doang.
Kalau lagi gak mau apa-apa ya cuma susu doang.
Jangan-jangan Razka lagi ikut food combining yach...?!!! :p
Lucunya kalau di 'toddler class'nya Razka lahap menyantap biskuit yang diberikan, bahkan minta tambah. "More please..." katanya. *Arghhh* emaknya mumet.
Tapi kok ya... berat badannya naik terus tuh dan [InsyaAllah] akhir-akhir ini jarang sakit, malah tambah ceria. Akhirnya saya --sekalipun tidak 100%-- nyerah deh. Saya tidak lagi memaksakan Razka harus makan, saya tawarkan berbagai pilihan dan saya tetap mengajarkannya kedisplinan, bahwa apa yang dipilih ya harus dihabiskan. Alhamdulillah --sampai saat ini-- Razka mau diajak konsekuen [emang anak 2 tahun ngerti konsekuensi ya?].
Saya pun berusaha berdamai dengan pola makan Razka, tapi tetep puter otak untuk menyiapkan menu-menu yang menurut saya enak dan baik, meski belum tentu dimakan Razka :p yah... dinikmati aja... itung-itung belajar masak.
Sepertinya saya juga perlu food combining nih....
Langganan:
Postingan (Atom)