2 hari yang lalu Razka belum juga tidur sampai pukul 22.30 WIB. Padahal bunda sudah sangat lelah dan mengantuk. Minta susu gak diminum. Ganti minta air putih, cuma dihisap-hisap aja dot-nya. Minta disetelin TV gak ditonton, malah minta diganti-ganti channelnya. Glebakan sambil nggriyeng. Rewel banget. Urghhhh....
Meski mata mas Razka sudah 5 watt, masih aja sempet ngusilin bundanya. Hidung bunda dipencet-pencet. Tangan bunda digigit. "Wadaooowww, sakit" bunda serius lho. Bunda coba kasih tahu baik-baik, eh malah tambah menjadi-jadi. Ketika nada suara bunda meninggi, Razka menangis. Bunda merasa bersalah dan coba menghibur Razka. Tangisan Razka semakin keras, sampai bunda kehabisan akal. Cara terakhir: diam, usap-usap punggung Razka, sambil bersenandung lirih. Baru bunda melantunkan satu bait lagu pengantar tidur, tiba-tiba "hwaaaaa...." pecah tangis Razka makin keras.
Jadi ingat posting bunda tanggal 5 Oktober 2009 lalu, bahwa Razka menitikan air mata perlahan ketika mendengar bunda bersenandung. Eeehhhh sekarang malah mboar-mboar.... :C
Ada apa tho nak dengan suara bunda?
Ok kalau sudah siap mendengar lagu pengantar tidur, please let me know ya nak...
Kamis, 05 November 2009
'Elmira' the pet lover
Di bawah ini adalah diskusi yang sedang marak dalam milis yang bunda ikuti nak... dan ternyata bunda alami juga.... :)
Setuju dengan Mbak Retno dan bundanya Sulthan.
Saya belum berani pelihara hewan, meski Razka [2 thn 3 bln] menunjukkan tanda-tanda "menyukai binatang" ;p.
Ketakutan saya terbukti karena Kelinci yang dibelikan omanya mati dalam hitungan hari. Alih-alih disayang-sayang eh malah kecekik. Kelinci kejang sesaat disusul kematiannya yang mengenaskan. Anak ayam yang dibeli sepupunya di sekolah juga mengalami nasib yang sama. Sayang... sayang... weik ciap ciap ciap lama-lama bunyinya makin lirih dan napas berhenti. Kucing persia milik Eyangnya selalu jadi sasaran untuk dikejar dan ditarik-tarik ekornya, wadaoooww... Dibawain kura-kura brazil sama ayahnya, digrujuk air banyak banget sampai tuh kura-kura kelelahan berenang. Untung gak berani pegang kura-kura jadi hewan ini lolos dari cengkeraman Razka :D
Bulan lalu Razka merengek-rengek beli ikan. Sang Oma nan baik hati mengabulkan permintaan cucunya dan membuatkan aquarium. Ikan baru datang sudah diobok-obok. Mati satu karena stress. Sekarang dia ngemis-ngemis dan minta ikannya dibuang, diganti dengan yang baru. Gak tanggung-tanggung IKAN HIU. Halah... gubrakkk. Saya ganti dengan VCD travel and living dan discovery channel mengenai ikan dan sea world saja hehehe...
Bener-bener 'Elmira' deh.... Mungkin ada baiknya menunggu si kecil mengerti merawat dan memelihara hewan ya... Meski ada sebagian batita yang sudah mengerti bahwa hewan adalah makhluk hidup yang dapat merasakan sakit dan sedih seperti manusia.
Saya lihat di b***tv, batita pada sayang banget sama hewan-hewan peliharaannya meski cuma seekor ulat kecil. Apa karena situasi kondisi masyarakat kita juga yang memang tidak biasa memperlakukan hewan sebagaimana mestinya?. Dalam masyarakat kita berlaku "lebih baik sayang ama anak orang daripada sayang ama binatang". Lihat kucing ditendang, lihat anjing ditimpuk, lihat ayam bawaannya pengen motong. Beda dengan perilaku masyarakat barat yang banyak merelakan tidak memiliki anak tapi menyayangi hewan peliharaannya seperti anak sendiri. Menyandingkan anak dan hewan peliharaannya hampir sejajar. (???!!)
Saya menyimpulkan bahwa perilaku anak kita juga banyak dipengaruhi oleh paradigma yang berlaku dimasyarakat dimana si kecil tumbuh dan berkembang. Meski bukan berarti kita sebagai orang tua mengajari secara langsung untuk berlaku jahat pada hewan. Tapi ini lebih pada lingkungan tinggal serta kebiasaan yang berlaku di masyarakat sekitar.
Sabar... sabar bukan berarti si kecil punya niat jahat khan....
Bunda yakin seiring waktu Razka akan tumbuh menjadi laki-laki penyayang, bukan berarti mengumbar rasa sayang yang dapat menyakiti orang lain lho :) [u will learn and know it son]
Setuju dengan Mbak Retno dan bundanya Sulthan.
Saya belum berani pelihara hewan, meski Razka [2 thn 3 bln] menunjukkan tanda-tanda "menyukai binatang" ;p.
Ketakutan saya terbukti karena Kelinci yang dibelikan omanya mati dalam hitungan hari. Alih-alih disayang-sayang eh malah kecekik. Kelinci kejang sesaat disusul kematiannya yang mengenaskan. Anak ayam yang dibeli sepupunya di sekolah juga mengalami nasib yang sama. Sayang... sayang... weik ciap ciap ciap lama-lama bunyinya makin lirih dan napas berhenti. Kucing persia milik Eyangnya selalu jadi sasaran untuk dikejar dan ditarik-tarik ekornya, wadaoooww... Dibawain kura-kura brazil sama ayahnya, digrujuk air banyak banget sampai tuh kura-kura kelelahan berenang. Untung gak berani pegang kura-kura jadi hewan ini lolos dari cengkeraman Razka :D
Bulan lalu Razka merengek-rengek beli ikan. Sang Oma nan baik hati mengabulkan permintaan cucunya dan membuatkan aquarium. Ikan baru datang sudah diobok-obok. Mati satu karena stress. Sekarang dia ngemis-ngemis dan minta ikannya dibuang, diganti dengan yang baru. Gak tanggung-tanggung IKAN HIU. Halah... gubrakkk. Saya ganti dengan VCD travel and living dan discovery channel mengenai ikan dan sea world saja hehehe...
Bener-bener 'Elmira' deh.... Mungkin ada baiknya menunggu si kecil mengerti merawat dan memelihara hewan ya... Meski ada sebagian batita yang sudah mengerti bahwa hewan adalah makhluk hidup yang dapat merasakan sakit dan sedih seperti manusia.
Saya lihat di b***tv, batita pada sayang banget sama hewan-hewan peliharaannya meski cuma seekor ulat kecil. Apa karena situasi kondisi masyarakat kita juga yang memang tidak biasa memperlakukan hewan sebagaimana mestinya?. Dalam masyarakat kita berlaku "lebih baik sayang ama anak orang daripada sayang ama binatang". Lihat kucing ditendang, lihat anjing ditimpuk, lihat ayam bawaannya pengen motong. Beda dengan perilaku masyarakat barat yang banyak merelakan tidak memiliki anak tapi menyayangi hewan peliharaannya seperti anak sendiri. Menyandingkan anak dan hewan peliharaannya hampir sejajar. (???!!)
Saya menyimpulkan bahwa perilaku anak kita juga banyak dipengaruhi oleh paradigma yang berlaku dimasyarakat dimana si kecil tumbuh dan berkembang. Meski bukan berarti kita sebagai orang tua mengajari secara langsung untuk berlaku jahat pada hewan. Tapi ini lebih pada lingkungan tinggal serta kebiasaan yang berlaku di masyarakat sekitar.
Sabar... sabar bukan berarti si kecil punya niat jahat khan....
Bunda yakin seiring waktu Razka akan tumbuh menjadi laki-laki penyayang, bukan berarti mengumbar rasa sayang yang dapat menyakiti orang lain lho :) [u will learn and know it son]
Rabu, 07 Oktober 2009
GTM
Masalah GTM alias Gerakan Tutup Mulut anak bila disuapi, sudah menjadi masalah global para ibu. Hanya sedikit prosentase ibu yang mulus bahkan tidak melalui tahapan ini sama sekali. Bersyukurlah....
Para ibu pusing tujuh keliling. dari puter otak membuat variasi menu sampai pada memberikan alternatif asupan gizi bagi anaknya. Saya pun tak luput dari permalahan ini.
Razka [2th 2bln] juga sedang mengalami masalah makan. Dalam sekali waktu makan bisa 2-3 kali ganti menu lho... Nyuil ini sedikit, lahap itu sedikit. Dan kalau sudah 'ngarani' gak bisa ditawar.
Tiba-tiba dia minta Ko alias donat J**o atau Di alias Burger Ikan Mc*. Sebenarnya saya bertahan untuk tidak memberikan junk food. Semua menu junk food saya tiru di rumah agar kualitasnya lebih terkontrol dan baik. Tapi dia emoh tuh, sampai saya akali dengan bungkus aslinya lho... hehehe dia tau tuh... Herannya lagi untuk urusan bertahan tidak membuka mulut, anak-anak ini punya energi lebih, sehingga tuh mulut terkunci rapat meski dirayu dengan berbagai cara.
Kalau lagi mau nasi, sehari cuma nasi doang.
Kalau lagi mau lauk, ya lauk doang.
Kalau lagi gak mau apa-apa ya cuma susu doang.
Jangan-jangan Razka lagi ikut food combining yach...?!!! :p
Lucunya kalau di 'toddler class'nya Razka lahap menyantap biskuit yang diberikan, bahkan minta tambah. "More please..." katanya. *Arghhh* emaknya mumet.
Tapi kok ya... berat badannya naik terus tuh dan [InsyaAllah] akhir-akhir ini jarang sakit, malah tambah ceria. Akhirnya saya --sekalipun tidak 100%-- nyerah deh. Saya tidak lagi memaksakan Razka harus makan, saya tawarkan berbagai pilihan dan saya tetap mengajarkannya kedisplinan, bahwa apa yang dipilih ya harus dihabiskan. Alhamdulillah --sampai saat ini-- Razka mau diajak konsekuen [emang anak 2 tahun ngerti konsekuensi ya?].
Saya pun berusaha berdamai dengan pola makan Razka, tapi tetep puter otak untuk menyiapkan menu-menu yang menurut saya enak dan baik, meski belum tentu dimakan Razka :p yah... dinikmati aja... itung-itung belajar masak.
Sepertinya saya juga perlu food combining nih....
Para ibu pusing tujuh keliling. dari puter otak membuat variasi menu sampai pada memberikan alternatif asupan gizi bagi anaknya. Saya pun tak luput dari permalahan ini.
Razka [2th 2bln] juga sedang mengalami masalah makan. Dalam sekali waktu makan bisa 2-3 kali ganti menu lho... Nyuil ini sedikit, lahap itu sedikit. Dan kalau sudah 'ngarani' gak bisa ditawar.
Tiba-tiba dia minta Ko alias donat J**o atau Di alias Burger Ikan Mc*. Sebenarnya saya bertahan untuk tidak memberikan junk food. Semua menu junk food saya tiru di rumah agar kualitasnya lebih terkontrol dan baik. Tapi dia emoh tuh, sampai saya akali dengan bungkus aslinya lho... hehehe dia tau tuh... Herannya lagi untuk urusan bertahan tidak membuka mulut, anak-anak ini punya energi lebih, sehingga tuh mulut terkunci rapat meski dirayu dengan berbagai cara.
Kalau lagi mau nasi, sehari cuma nasi doang.
Kalau lagi mau lauk, ya lauk doang.
Kalau lagi gak mau apa-apa ya cuma susu doang.
Jangan-jangan Razka lagi ikut food combining yach...?!!! :p
Lucunya kalau di 'toddler class'nya Razka lahap menyantap biskuit yang diberikan, bahkan minta tambah. "More please..." katanya. *Arghhh* emaknya mumet.
Tapi kok ya... berat badannya naik terus tuh dan [InsyaAllah] akhir-akhir ini jarang sakit, malah tambah ceria. Akhirnya saya --sekalipun tidak 100%-- nyerah deh. Saya tidak lagi memaksakan Razka harus makan, saya tawarkan berbagai pilihan dan saya tetap mengajarkannya kedisplinan, bahwa apa yang dipilih ya harus dihabiskan. Alhamdulillah --sampai saat ini-- Razka mau diajak konsekuen [emang anak 2 tahun ngerti konsekuensi ya?].
Saya pun berusaha berdamai dengan pola makan Razka, tapi tetep puter otak untuk menyiapkan menu-menu yang menurut saya enak dan baik, meski belum tentu dimakan Razka :p yah... dinikmati aja... itung-itung belajar masak.
Sepertinya saya juga perlu food combining nih....
Senin, 05 Oktober 2009
Dua...
Setiap pagi Razka "sekolah" di rumah oma. Dan setiap hari pula, Razka klayu. Akhirnya dengan segala upaya membujuk, terjadilah perbincangan antara Razka dan oma-nya.
Oma nyelimur: Razka sini deh, oma punya burung dara. Coba lihat ada berapa?
Razka, sambil tetap sesenggukan: Dua
Oma: Duuh... Razka sudah pintar berhitung ya... Sekarang coba hitung balonnya ada berapa?
Razka, sudah gak mewek lagi: Dua!!!
Oma: *glek* balon empat kok dibilang dua :p
*nyengir*
Oma nyelimur: Razka sini deh, oma punya burung dara. Coba lihat ada berapa?
Razka, sambil tetap sesenggukan: Dua
Oma: Duuh... Razka sudah pintar berhitung ya... Sekarang coba hitung balonnya ada berapa?
Razka, sudah gak mewek lagi: Dua!!!
Oma: *glek* balon empat kok dibilang dua :p
*nyengir*
Ada apa dengan Razka...
Semalam, seperti biasa kami --bunda, ayah dan Razka-- menghabiskan waktu di kamar, sekalian 'ngeloni'. Kelihatannya Razka juga sudah sangat mengantuk, matanya sudah 5 watt nih. Razka mulai mengambil botol minumnya, ngedot, sambil bermanja-manja di pelukan bunda.
Melihat gelagat Razka yang sudah 'stone', bunda berinisiatif mempercepat Razka terpejam dengan menyenandungkan lagu pengantar tidur.
"Razka bobo, o oh Razka bobo... Kalau tidak bobo digigit nyamuk...
Bobolah bobo Razka anakku sayang...
Kalau tidak bobo digigit nyamuk..."
Begitu lirik yang bunda nyanyikan dengan lirih. Bunda melirik sejenak ke arah mata Razka, sepertinya sudah 'merem' nih. Tapi gak lama kemudian bunda melihat Razka seperti menahan tangis, air mata merembes perlahan dari kelopak mungilnya. Istilahnya mbrebes mili. Ayah bunda terhenyak kaget, karena tadi Razka ceria sekali. Bunda sontak membangunkan Razka.
"Razka kenapa? Sakit ya nak? mana yang sakit" pertanyaan panik beruntun keluar dari mulut bunda. Ayah juga seketika memegang telapak tangan dan kakinya. "Kita ke UGD aja yukkkk" kata ayah spanning. Tapi secara mengejutkan juga Razka hanya menatap dan memegang pipi bunda sambil tersenyum tanpa berkata-kata. Duuuh... makin senewen deh...
Gak lama kemudian Razka sudah 'glebakan' lagi dan minta susu. Razka pun asik minum susu dari botolnya. Bunda pun memanfaatkan waktu tersebut untuk segera menidurkan Razka, kembali bunda melantunkan lagu Nina Bobo sambil memejamkan mata. Ketika mata bunda terbuka, eeehhhh bunda melihat mata Razka sebam menahan air mata. Mulutnya pun mimblik-mimblik menahan tangis. MasyaAllah.... kenapa nak? Lagu ini terlalu 'mellow' ya? bunda berhenti bersenandung, sambil dalam hati bertanya-tanya ada apa gerangan dengan permata hati bunda ini.
Akhirnya bunda berinisiatif mengganti lagu dengan lagu lain yang berirama lebih ceria "twinkle-twinkle little star". Kelar lagu "twinkle..", bunda bertanya ke ayah apakah Razka sudah tertidur, kebetulan posisi tidur Razka sedikit membelakangi bunda sehingga gak terlihat matanya. Jawaban ayah cukup mengejutkan "Sudah deh gak usah nyanyi lagi bun... Hidung dan mata Razka mulai kemerahan, mau mewek tuh...."
Duuuhh nak... maaf bukan maksud bunda membuat Razka sedih. Tapi kenapa ya? apa yang salah? lagunya menyedihkan? suara bunda yang gak enak didengar? atau apa ya...?
Tiba-tiba pikiran bunda melayang pada setahun yang lalu ketika Razka berusia setahun dan sama sekali belum bisa ngomong. Razka teriak dan memukul mulut bunda setiap bunda menyenandungkan lagu pengantar tidur 'nina bobok' atau 'twinkle-twinkle'. Sejak itu bunda gak pernah lagi bersenandung, karena bunda pikir Razka gak suka ada suara ketika mau tidur. Kali ini Razka gak marah dan meminta bunda diam. Tapi Razka menitikkan air mata...
Ada apa dengan Razka?
Apa kita perlu ngobrol lagi dengan psikolog ya?
Melihat gelagat Razka yang sudah 'stone', bunda berinisiatif mempercepat Razka terpejam dengan menyenandungkan lagu pengantar tidur.
"Razka bobo, o oh Razka bobo... Kalau tidak bobo digigit nyamuk...
Bobolah bobo Razka anakku sayang...
Kalau tidak bobo digigit nyamuk..."
Begitu lirik yang bunda nyanyikan dengan lirih. Bunda melirik sejenak ke arah mata Razka, sepertinya sudah 'merem' nih. Tapi gak lama kemudian bunda melihat Razka seperti menahan tangis, air mata merembes perlahan dari kelopak mungilnya. Istilahnya mbrebes mili. Ayah bunda terhenyak kaget, karena tadi Razka ceria sekali. Bunda sontak membangunkan Razka.
"Razka kenapa? Sakit ya nak? mana yang sakit" pertanyaan panik beruntun keluar dari mulut bunda. Ayah juga seketika memegang telapak tangan dan kakinya. "Kita ke UGD aja yukkkk" kata ayah spanning. Tapi secara mengejutkan juga Razka hanya menatap dan memegang pipi bunda sambil tersenyum tanpa berkata-kata. Duuuh... makin senewen deh...
Gak lama kemudian Razka sudah 'glebakan' lagi dan minta susu. Razka pun asik minum susu dari botolnya. Bunda pun memanfaatkan waktu tersebut untuk segera menidurkan Razka, kembali bunda melantunkan lagu Nina Bobo sambil memejamkan mata. Ketika mata bunda terbuka, eeehhhh bunda melihat mata Razka sebam menahan air mata. Mulutnya pun mimblik-mimblik menahan tangis. MasyaAllah.... kenapa nak? Lagu ini terlalu 'mellow' ya? bunda berhenti bersenandung, sambil dalam hati bertanya-tanya ada apa gerangan dengan permata hati bunda ini.
Akhirnya bunda berinisiatif mengganti lagu dengan lagu lain yang berirama lebih ceria "twinkle-twinkle little star". Kelar lagu "twinkle..", bunda bertanya ke ayah apakah Razka sudah tertidur, kebetulan posisi tidur Razka sedikit membelakangi bunda sehingga gak terlihat matanya. Jawaban ayah cukup mengejutkan "Sudah deh gak usah nyanyi lagi bun... Hidung dan mata Razka mulai kemerahan, mau mewek tuh...."
Duuuhh nak... maaf bukan maksud bunda membuat Razka sedih. Tapi kenapa ya? apa yang salah? lagunya menyedihkan? suara bunda yang gak enak didengar? atau apa ya...?
Tiba-tiba pikiran bunda melayang pada setahun yang lalu ketika Razka berusia setahun dan sama sekali belum bisa ngomong. Razka teriak dan memukul mulut bunda setiap bunda menyenandungkan lagu pengantar tidur 'nina bobok' atau 'twinkle-twinkle'. Sejak itu bunda gak pernah lagi bersenandung, karena bunda pikir Razka gak suka ada suara ketika mau tidur. Kali ini Razka gak marah dan meminta bunda diam. Tapi Razka menitikkan air mata...
Ada apa dengan Razka?
Apa kita perlu ngobrol lagi dengan psikolog ya?
Sabtu, 26 September 2009
Finally...
Hhhh... akhirnya Bunda lega deh nak... Lebaran ini ternyata memberikan hadiah lain untuk Bunda. Semua kosakata yang terekam Razka selama ini tiba-tiba mengalir deras. Naik turun tangga, Razka berhitung "satu, dua, tiga...". Razka juga tak berhenti menirukan kalimat yang bunda ucapkan dengan lancar.
Bunda: Setelah enam, berapa nak?
Razka: TUJUH [mantap]
Alhamdulillah... bukan itu saja Razka juga sudah bisa menyusun puzzle sesuai tempatnya, gak tanggung-tanggung 10 pcs lho...
Puji syukur ke hadlirat Allah SWT tak putus bunda ucapkan. Subhanallah... InsyaAllah Razka menjadi anak yang cerdas dan --harus-- sholeh.
Eh... sudah bisa 'complaint' juga "Ayah bau, ayah bau, lum ndi" hihihi pasti yang ngajarin bundanya nih :p *mode: ngaku on*
Jadi... selama ini 'ngematke' tho nak...
Bunda: Setelah enam, berapa nak?
Razka: TUJUH [mantap]
Alhamdulillah... bukan itu saja Razka juga sudah bisa menyusun puzzle sesuai tempatnya, gak tanggung-tanggung 10 pcs lho...
Puji syukur ke hadlirat Allah SWT tak putus bunda ucapkan. Subhanallah... InsyaAllah Razka menjadi anak yang cerdas dan --harus-- sholeh.
Eh... sudah bisa 'complaint' juga "Ayah bau, ayah bau, lum ndi" hihihi pasti yang ngajarin bundanya nih :p *mode: ngaku on*
Jadi... selama ini 'ngematke' tho nak...
Jumat, 04 September 2009
One day in Toddler Class
Sabtu kemarin kami mengajak Razka masuk play class lebih awal. Wah ada titik cerah, my wonderful boy ini memasuki ruangan dengan gembira, dengan catatan ditemani ayah, it's fine bebe. Tapi ternyata tidak berlangsung lama, ketika kelas dimulai, Razka malah minta keluar lagi. Akhirnya ditemani bunda dan ayah masuk ke music class, cukup 15 menit saja. Razka minta keluar lagi dan pulang.
Setelah beberapa kali gak dapat mood Razka untuk menikmati kelasnya. Bunda terpaksa minta tolong oma untuk antar Razka ke sekolah dua hari sekali. Kamis kemarin merupakan kali ke dua Razka sekolah bersama Oma. Alhamdulillah sudah ada kemajuan, dari yang hanya mau mengikuti kelas 1/2 dari waktu yang disediakan, kemarin Razka sudah menyelesaiakan kelasnya dengan baik.
Menurut Oma, Razka juga cukup dapat menerima arahan 'miss' nya, meski belum sukarela, masih perlu bujukan :) Razka juga antusias dengan permainan edukasi yang diberikan. Apalagi ketika harus menabur pasir di lembar gambarnya.
Sebelum bobo, terjadi sedikit komunikasi mengenai sekolahnya, antara kami dengan Razka.
Ayah/bunda: Mas, tadi di seklah belajar apa nak?
Razka: mamam
Ayah/bunda: Setelah mamam, miss-nya kasih apa?
Razka: menggosokkan kedua telapak tangannya
Ayah/bunda: o iya cuci tangan ya.... Habis mamam bikin gambar apa?
Razka: kuwa
Ayah/bunda: wah hebat nempel kura-kura ya...
Razka: senyum manis sambil menunjuk kertas gambarnya yang kami gantung di dinding
Ayah/bunda: Och... senangnya
Oke... Sabtu besok kita sekula lagi ya mas....
Bunda tak kan pernah lelah nak...
Setelah beberapa kali gak dapat mood Razka untuk menikmati kelasnya. Bunda terpaksa minta tolong oma untuk antar Razka ke sekolah dua hari sekali. Kamis kemarin merupakan kali ke dua Razka sekolah bersama Oma. Alhamdulillah sudah ada kemajuan, dari yang hanya mau mengikuti kelas 1/2 dari waktu yang disediakan, kemarin Razka sudah menyelesaiakan kelasnya dengan baik.
Menurut Oma, Razka juga cukup dapat menerima arahan 'miss' nya, meski belum sukarela, masih perlu bujukan :) Razka juga antusias dengan permainan edukasi yang diberikan. Apalagi ketika harus menabur pasir di lembar gambarnya.
Sebelum bobo, terjadi sedikit komunikasi mengenai sekolahnya, antara kami dengan Razka.
Ayah/bunda: Mas, tadi di seklah belajar apa nak?
Razka: mamam
Ayah/bunda: Setelah mamam, miss-nya kasih apa?
Razka: menggosokkan kedua telapak tangannya
Ayah/bunda: o iya cuci tangan ya.... Habis mamam bikin gambar apa?
Razka: kuwa
Ayah/bunda: wah hebat nempel kura-kura ya...
Razka: senyum manis sambil menunjuk kertas gambarnya yang kami gantung di dinding
Ayah/bunda: Och... senangnya
Oke... Sabtu besok kita sekula lagi ya mas....
Bunda tak kan pernah lelah nak...
Langganan:
Postingan (Atom)